Saat malam kian hening, sebagian orang malah harus menghadapi hiruk-pikuk pikirannya sendiri. Mata yang terus terjaga membuat setiap kekhawatiran terasa makin nyata. Ketakutan dapat berkembang menjadi kecurigaan, sementara pikiran yang belum tentu benar kadang terasa seolah-olah merupakan kenyataan.
Namun, tidak semua pikiran perlu dipercaya, dan tidak semua ketakutan harus diikuti. Di sinilah tanggung jawab moral berperan: bukan untuk menghakimi seseorang berdasarkan isi pikirannya, melainkan untuk menyadari bahwa setiap manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain.
Kita bertanggung jawab untuk berhenti sejenak ketika pikiran mulai menguasai diri, membedakan kenyataan dari dugaan, serta tidak menjadikan prasangka sebagai alasan untuk menyakiti atau menuduh orang lain.
Sebab, tanggung jawab moral tidak berarti kita dapat mengendalikan seluruh isi pikiran, melainkan bahwa kita bertanggung jawab atas cara kita menyikapinya.
Malam boleh membawa keresahan, tetapi keresahan tidak harus menentukan keputusan. Pikiran boleh muncul tanpa diundang, tetapi tindakan tetap memerlukan pertimbangan.
Pada akhirnya, menjadi manusia yang bermoral berarti belajar mengatakan kepada diri sendiri:
"Aku tidak harus mempercayai semua yang kupikirkan. Aku hanya perlu menyadarinya, memeriksanya, dan memilih tindakan yang tidak merugikan diriku maupun orang lain."
Editor: Hafida Hakimatul Khoiriyah
Penulis : Sarijal
0 Komentar