banner Kemarau di Menara Gading: Belenggu Tak Kasatmata dan Raja-Raja Kecil di Balik Mimbar - SEMBURAT

Kemarau di Menara Gading: Belenggu Tak Kasatmata dan Raja-Raja Kecil di Balik Mimbar

 



Sumber :LSO

Menara gading kerap dikisahkan sebagai taman firdaus bagi akal budi, tempat mekarnya bunga-bunga pemikiran dan berhembusnya angin kemerdekaan. Namun, bila kita mengikis lapisan cat kemegahan di pilar-pilarnya, tersingkap lorong-lorong sunyi di mana kebebasan, hak, dan privasi kerap kali hanyalah dongeng pengantar tidur. Institusi yang seharusnya menjadi rahim bagi kemerdekaan intelektual, nyatanya bagi sebagian jiwa justru menjelma menjadi sangkar besi berbalut emas, tempat suara-suara muda dicekik sebelum sempat mengudara mencari makna.


Di hamparan taman pencerahan yang ironisnya tengah dilanda kemarau ini, ruang privat mahasiswa sering kali ditelanjangi oleh tatapan otoritas yang tak kenal tapal batas. Hak untuk merasa aman, hak untuk berdaulat atas pikiran dan diri sendiri, kerap menguap bagai embun yang tersengat terik matahari hierarki. Mahasiswa dipaksa menari mengikuti irama gendang yang ditabuh dari atas, membiarkan kemerdekaan mereka digadai atas nama kepatuhan buta pada tradisi akademik yang usang.

Tragedi sunyi ini orkestra oleh segelintir manusia yang mabuk oleh kepulan asap kekuasaan—para raja kecil yang bertahta di balik mimbar suci. Berbekal selembar silabus dan gelar yang menjuntai panjang bak jubah kebesaran, mereka mengubah pena menjadi pedang algojo. Mimbar kelas yang semestinya menjadi panggung dialog dua arah beralih rupa menjadi mahkamah kediktatoran. Jabatan dan kehormatan akademis tidak lagi dimaknai sebagai air penyemai kebijaksanaan, melainkan cambuk untuk menundukkan mereka yang dianggap sekadar bidak-bidak rapuh di atas papan catur kehidupan kampus.


Lebih dari sekadar menuntut posisi merunduk, para tiran berjas rapi ini gemar menyandera hari esok. Angka-angka keramat di atas kertas transkrip disulap menjadi surat penentu takdir. Ancaman terselubung atau bahkan terang-terangan menjadi racun mematikan yang disuntikkan perlahan ke dalam nadi harapan mahasiswa. Sebuah nilai yang dihanguskan, sebuah tanda tangan yang ditahan, layaknya Pedang Damocles yang dibiarkan menggantung tepat di atas ubun-ubun masa depan. Mahkamah sang dosen berbisik nyaring: "Tunduk pada titahku, atau masa depanmu akan menjadi abu." Akibatnya, para pencari ilmu ini terpaksa menelan bongkahan batu kepahitan sambil terus memahat senyum pasrah di wajah mereka.


Sampai kapan panggung teater ini terus memutar lakon yang sama? Kemilau menara gading tak akan pernah benar-benar menerangi peradaban jika rantai ketakutan masih mengikat erat pergelangan kaki para penghuninya. Kemerdekaan, privasi, dan hak-hak dasar bukanlah mahkota kedermawanan yang bisa dilepas-pasang sesuka hati oleh pemegang otoritas. Ia adalah napas murni yang tak boleh dirampas dari paru-paru kaum cendekia. Telah tiba masanya agar badai keberanian menyapu bersih debu-debu kesewenang-wenangan, agar bunga kebebasan tak lagi mati layu di tangan para perampas takdir.


Penulis : Bupati Serpong

Editor: Hafida Hakimatul Khoiriyah 

0 Komentar