Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa ilmu itu seperti padi: semakin berisi, semakin merunduk. Filosofi ini mengisyaratkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, seharusnya semakin tinggi pula tingkat kebijaksanaan dan kerendahan hatinya. Sayangnya, tembok-tembok kampus kadang melahirkan paradoks yang disebut sebagai arogansi akademik. Ini adalah kondisi di mana kedudukan struktural dan gelar tidak lagi menjadi instrumen pengabdian, melainkan menjadi menara gading yang melahirkan kesombongan dan manipulasi.
Arogansi akademik masa kini tidak hanya berwujud kekerasan fisik, tetapi bermanifestasi dalam penyalahgunaan wewenang penilaian yang sangat kekanak-kanakan. Seseorang dengan "jabatan tertentu" sering kali merasa memiliki kuasa absolut atas nasib mahasiswa.
Ketika mahasiswa bersikap kritis atau dianggap tidak patuh, sang dosen dengan mudahnya menggunakan kekuasaannya untuk menjatuhkan mental.
Sebaliknya, mahasiswa yang patuh dan menunduk akan dihadiahi nilai yang bagus. Namun, nilai ini bukanlah bentuk apresiasi objektif atas kemampuan akademis, melainkan investasi psikologis untuk mengikat mahasiswa dalam perasaan "hutang budi".
Arogansi oknum mencapai puncaknya ketika di kemudian hari, mahasiswa tersebut mulai memiliki pandangan sendiri atau tidak lagi bisa dikontrol. Mahasiswa itu seketika dicap sebagai "kacang lupa kulit", dan semua "kebaikan" masa lalu akan diungkit-ungkit. Sang oknum pendidik merasa telah menjadi dewa penolong yang dikhianati, padahal ia sendirilah yang sedang memanipulasi relasi tersebut.
Sikap merasa tinggi dan sombong ini menutup mata terhadap realitas administratif yang sebenarnya. Mahasiswa hadir di kampus dan bisa duduk di kelas karena mereka membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), sementara dosen dipekerjakan dan digaji dengan kewajiban profesional untuk membimbing dan mengajar. Ini adalah sebuah simbiosis mutualisme, bukan sebuah hutang budi mahasiswa kepada dosen. Sangat irasional jika kewajiban membimbing dan memberikan nilai obyektif dianggap sebagai kebaikan hati yang harus dibalas dengan kepatuhan buta seumur hidup.
Ilmu pengetahuan kehilangan ruhnya ketika ia digunakan untuk mengeksploitasi orang lain secara mental. Interaksi akademik adalah transaksi hak dan kewajiban yang setara secara profesional, bukan panggung bagi segelintir orang untuk memuaskan ego pribadi dengan menyandera masa depan mahasiswa melalui nilai.
Penulis: Adnan
Editor : Hafida Hakimatul Khoiriyah
0 Komentar