banner Puisi Aku Tetap Bertanya - SEMBURAT

Puisi Aku Tetap Bertanya


 Engkau lahir dari rahim keraguan,

bukan dari keyakinan yang buta.

Sebab setiap cahaya yang ditemukan

selalu diawali oleh keberanian

untuk mempertanyakan gelap.

 

Seperti Socrates yang meneguk racun

demi mempertahankan kebenaran,

seperti Plato yang memandang dunia

hanya bayangan dari kenyataan yang lebih dalam,

aku pun berdiri di antara tanya dan makna,

mencari sesuatu yang tak pernah selesai dicari.

 

Descartes berbisik dari kejauhan,

"Aku berpikir, maka Aku ada."

Namun pikiranku kembali bertanya,

apakah kesadaran cukup untuk menjadi nyata?

Atau kah Aku hanya mimpi yang sedang bermimpi,

bayangan yang mengira dirinya cahaya?

 

Aku berjalan di jalan yang tak bernama,

di antara takdir dan kebebasan memilih.

Setiap langkah terasa seperti teka-teki;

apakah telah ditulis sejak awal,

atau justru sedang ku tulis sendiri

dengan jejak-jejak yang ku tinggalkan?

 

Para Stoik mengajariku penerimaan,

menerima apa yang tak mampu diubah.

Namun kaum eksistensialis berteriak,

bahwa hidup adalah pilihan,

dan manusia adalah pencipta maknanya sendiri.

Di antara dua kutub itu,

Aku memilih menjadi peziarah,

yang tak tergesa menemukan jawaban.

 

Nietzsche pernah berkata

bahwa Tuhan telah mati.

Namun di kedalaman sunyi yang paling sunyi,

sesuatu tetap berdenyut,

sesuatu yang tak dapat dijelaskan

oleh logika maupun penolakan.

 

Mungkin kebenaran bukanlah tujuan,

melainkan jalan yang terus memanggil.

Bukan rumah tempat beristirahat,

tetapi perjalanan yang tak pernah usai.

Sebab setiap jawaban melahirkan pertanyaan baru,

dan setiap akhir hanyalah pintu

menuju awal yang lain.

 

Kini aku tak lagi memburu semua jawaban.

Aku hanya ingin memahami

bahwa diriku adalah bagian kecil

dari misteri yang tak berbatas.

Bagian dari semesta yang luas dan sunyi,

yang terus bergerak tanpa perlu menjelaskan dirinya.

 

Dan di tengah langit yang dipenuhi bintang,

Di hadapan waktu yang tak mengenal belas kasih,

Aku tetap bertanya.

bukan karena Aku tersesat,

melainkan karena pertanyaan itu sendiri

adalah tanda bahwa Aku masih hidup.

 

Sebab selama rasa ingin tahu belum padam,

selama keraguan masih berani mengetuk kesadaran,

selama hati masih mencari makna di balik segala yang tampak,

Aku akan terus berjalan.

Dan di tengah alam semesta yang luas dan sunyi,

Aku tetap bertanya maka aku tetap hidup.



Penulis : Filsuf Jalanan

Editor : Hafida Hakimatul Khoiriyah

0 Komentar