Di
Timur, kata tak pernah lebih penting dari hening.
Kebijaksanaan tidak berteriak
Ia meresap seperti embun ke tanah,
Seperti
cahaya bulan yang menyelinap di celah-celah daun.
Konfusius
pernah berkata:
Belajar dan mengulang adalah
kebahagiaan,
Aku bertanya kepada angin:
Apakah belajar berarti menambah tumpukan buku,
atau justru mengurangi keruh yang mengendap di dalam hati?
Lao
Tzu tersenyum dari kejauhan.
Ia
mengingatkan bahwa jalan sejati tak pernah selesai diceritakan.
Jalan itu seperti sungai yang mengalir tanpa
perlu menjelaskan ke mana ia menuju.
Di
Timur, orang tua duduk di beranda, menghisap pipa tua
Menatap sawah yang menguning.
Mereka
mungkin tak membaca ribuan buku,
Mereka tahu kapan benih harus ditanam,
kapan hujan akan datang, dan kapan diam lebih bijak dari pada ikut bertengkar.
Kearifan
adalah hidup, bukan teori.
Menjadi,
bukan berbicara tentang menjadi.
Bertindak,
bukan berdebat tentang tindakan.
Suatu
hari aku bertemu seorang petani di pinggir jalan.
Wajahnya berkerut seperti kulit kayu jati. Aku
bertanya tentang makna hidup.
Ia
hanya menunjuk hamparan padi dan berkata, “Lihatlah, semakin berisi, semakin
merunduk.”
Lalu ia pergi tanpa pamit, tanpa nasihat
panjang.
Namun dari langkahnya yang menjauh,
Aku memahami bahwa rendah hati adalah
kebijaksanaan yang paling tinggi.
Dan
memang, kebijaksanaan Timur tidak banyak bicara.
Ia
cukup hidup dan diam.
Seperti
bisikan Rumi dari kejauhan yang mengatakan bahwa:
Kita sesungguhnya satu. Jangan terpaku pada
tubuh yang fana,
Tetapi
lihatlah cahaya yang bersembunyi di balik debu.
Maka aku menutup mata,
Bukan
untuk melupakan dunia, melainkan untuk melihat dunia yang sesungguhnya.
Di
balik bentuk, ada yang tak berbentuk.
Di
balik nama, ada yang tak bernama.
Di
balik hidup, ada yang tak pernah mati.
Aku adalah pertanyaan yang tak perlu dijawab.
Cukup dijalani,
Cukup
dihayati,
Cukup
disyukuri.
Karena hidup adalah ibadah,
Alam adalah kitab suci
Dan
kita hanyalah bagian kecil dari misteri yang tak pernah selesai mengungkap
dirinya.
Diam
bukanlah kekosongan.
Diam
adalah kepenuhan yang tak terucapkan.
Timur
mengajarkan bahwa untuk menemukan yang hakiki,
Manusia
tidak perlu selalu mencari ke luar.
Kadang ia hanya perlu kembali ke dalam,
Ke ruang sunyi tempat segala jawaban telah
lama menunggu.
Editor : Hafida Hakimatul K
0 Komentar