banner Puisi Hening dari Timur - SEMBURAT

Puisi Hening dari Timur


 

Di Timur, kata tak pernah lebih penting dari hening.

Kebijaksanaan tidak berteriak

Ia meresap seperti embun ke tanah,

Seperti cahaya bulan yang menyelinap di celah-celah daun.

Konfusius pernah berkata:

Belajar dan mengulang adalah kebahagiaan,

Aku bertanya kepada angin:

Apakah belajar berarti menambah tumpukan buku, atau justru mengurangi keruh yang mengendap di dalam hati?

 


Lao Tzu tersenyum dari kejauhan.

Ia mengingatkan bahwa jalan sejati tak pernah selesai diceritakan.

Jalan itu seperti sungai yang mengalir tanpa perlu menjelaskan ke mana ia menuju.

Di Timur, orang tua duduk di beranda, menghisap pipa tua

Menatap sawah yang menguning.

Mereka mungkin tak membaca ribuan buku,

Mereka tahu kapan benih harus ditanam, kapan hujan akan datang, dan kapan diam lebih bijak dari pada ikut bertengkar.

 


Kearifan adalah hidup, bukan teori.

Menjadi, bukan berbicara tentang menjadi.

Bertindak, bukan berdebat tentang tindakan.

Suatu hari aku bertemu seorang petani di pinggir jalan.

Wajahnya berkerut seperti kulit kayu jati. Aku bertanya tentang makna hidup.

Ia hanya menunjuk hamparan padi dan berkata, “Lihatlah, semakin berisi, semakin merunduk.”

Lalu ia pergi tanpa pamit, tanpa nasihat panjang.

Namun dari langkahnya yang menjauh,

Aku memahami bahwa rendah hati adalah kebijaksanaan yang paling tinggi.

 


Dan memang, kebijaksanaan Timur tidak banyak bicara.

Ia cukup hidup dan diam.

Seperti bisikan Rumi dari kejauhan yang mengatakan bahwa:

Kita sesungguhnya satu. Jangan terpaku pada tubuh yang fana,

Tetapi lihatlah cahaya yang bersembunyi di balik debu.

Maka aku menutup mata,

Bukan untuk melupakan dunia, melainkan untuk melihat dunia yang sesungguhnya.

 


Di balik bentuk, ada yang tak berbentuk.

Di balik nama, ada yang tak bernama.

Di balik hidup, ada yang tak pernah mati.

Aku adalah pertanyaan yang tak perlu dijawab.

Cukup dijalani,

Cukup dihayati,

Cukup disyukuri.

Karena hidup adalah ibadah,

Alam adalah kitab suci

Dan kita hanyalah bagian kecil dari misteri yang tak pernah selesai mengungkap dirinya.

 


Diam bukanlah kekosongan.

Diam adalah kepenuhan yang tak terucapkan.

Timur mengajarkan bahwa untuk menemukan yang hakiki,

Manusia tidak perlu selalu mencari ke luar.

Kadang ia hanya perlu kembali ke dalam,

Ke ruang sunyi tempat segala jawaban telah lama menunggu.

 


Penulis : Kapitalis Rahmatal Lil Alamin

Editor : Hafida Hakimatul K

0 Komentar