Aku dulu banyak bicara "cerewet" kata orang, ada saja yang ingin diceritakan tentang warna langit, tentang cicak di dinding tentang teman yang tak sengaja menukar bekal. Dulu, suara ini tidak kenal lelah. Tapi pelan-pelan, ia belajar membaca tanda, belajar diam ketika orang dewasa mengangguk tanpa mendengar, belajar berhenti ketika ceritaku disela oleh telepon, pekerjaan, atau kalimat, "nanti ya."


Aku tumbuh sebagai anak yang tahu waktu tapi bukan waktu yang seperti di jam, melainkan waktu untuk tahu kapan harus berhenti bicara. Waktu untuk menyimpan cerita sebelum dipotong, waktu untuk membungkus perasaan sebelum terlalu besar. Aku tumbuh bukan menjadi pendiam, tapi menjadi seseorang yang tahu bahwa bercerita belum tentu didengarkan dan semua ruang yang ku pijak namun rumah adalah tempat pertama aku belajar menyimpan mungkin karena rumah terlalu ramai dengan tanggung jawab namun Aku hanya satu dari sekian suara yang tak lebih nyaring seperti layaknya televisi yang menyala sepanjang malam. 


Aku mulai merasa bahwa masalahku tak cukup penting bahwa sedihku seharusnya bisa ku telan sendiri, karena orang lain punya beban yang lebih. Kita bisa menjadi rumah bagi suara-suara yang dulu tercekat, rumah bagi cerita-cerita kecil yang hanya ingin di akui keberadaannya. Kadang, yang Kita butuhkan bukanlah seseorang yang menjawab tapi seseorang yang diam dan tinggal yang tidak membandingkan yang tidak memotong dan tidak menganggap remeh. Seseorang yang bisa menerima bahwa Kita juga punya cerita, sekecil dan sesederhana apapun itu.


Hari ini, Aku tau dan tak perlu mengubah caraku bicara agar diterima. Aku hanya perlu menemukan tempat yang tak menuntutku untuk menyederhanakan diriku agar bisa dimengerti. Tempat itu mungkin bukan orang tua, bukan saudara, bukan siapa-siapa. Tapi bisa jadi halaman inidoa yang kubisikkan dalam malam.


Aku tidak lagi mencari banyak pendengar, cukup satu yang berusaha memperbaiki dan cukup satu yang hadir sementara itu belum kutemukan, Aku akan tetap menulis karena setiap kalimat yang ku tuangkan adalah upaya untuk menyiram benih cerita yang dulu sempat ku tanam, lalu ku tinggalkan di loteng. Siapa tau, suatu hari nanti ada seseorang yang akan datang, membuka loteng itu, dan berkata, "Aku ingin mendengarnya."


Penulis: Setan Jahat

Editor : Hafida Hakimatul Khoiriyah