Kita sering mengira kepemimpinan adalah soal memilih orang. Seakan-akan seorang pemimpin hebat adalah sosok yang punya radar ajaib: bisa membedakan mana bakat murni dan mana beban, mana calon bintang dan mana calon gagal. Maka lahirlah jargon jargon modern: hiring the best, getting the right people on the bus, talent acquisition. Semua terdengar canggih, semua tampak meyakinkan, tetapi ada satu bahaya di balik itu: kita lupa bahwa memilih hanyalah awal.
Menjadi pemimpin sejati bukan hanya soal memilih orang, tetapi soal menyiapkan cara terbaik untuk menumbuhkan mereka.
Mari kita pakai analogi sederhana. Petani bisa saja memilih benih terbaik, tetapi jika tanahnya tandus, jika airnya kotor, jika cahaya matahari terhalang, benih itu tidak akan tumbuh. Begitu pula organisasi.
Kita bisa merekrut orang paling cerdas, lulusan terbaik, dengan CV berkilau. Tetapi jika budaya kerja beracun, jika struktur organisasi kaku, jika pemimpin tidak peduli, mereka akan layu.
Sebaliknya, bahkan benih yang sederhana bisa tumbuh indah jika ditanam di tanah yang subur, dirawat dengan sabar, diberi ruang untuk berakar. Tugas pemimpin bukan hanya memilih benih, tetapi menciptakan tanah.
Sayangnya, banyak pemimpin masih terjebak pada mentalitas kolektor. Mereka sibuk "mengoleksi" orang hebat, seakan-akan kepemimpinan hanya kompetisi siapa punya tim paling keren. Tetapi orang bukan koleksi. Setiap orang adalah organisme hidup, dengan potensi yang baru terlihat jika dipupuk dengan cara yang tepat.
Seorang pemimpin yang hanya pandai memilih, tetapi tidak tahu menumbuhkan, pada akhirnya akan kehilangan orang-orang terbaiknya. Karena orang hebat tidak bertahan di tempat yang membunuh pertumbuhan mereka.
Ada satir pahit di dunia korporasi: kita sering mendengar manajer berkata, ”Tim saya lemah, orang-orangnya tidak kompeten.” Tetapi jarang ada yang berani bertanya, ”Apakah tanah yang saya ciptakan membuat mereka bisa tumbuh?”
Kita lupa bahwa orang jarang gagal sendirian. Mereka sering gagal karena sistem yang tidak mendukung. Seorang analisis brilian bisa jadi frustasi jika terjebak birokrasi. Seorang kreator berbakat bisa jadi mati gaya jika pemimpinnya takut pada ide liar. Seorang pekerja keras bisa jadi putus asa jika setiap pencapaiannya tidak pernah dihargai.
Kita sering menyalahkan benih, padahal yang rusak adalah tanah. Menumbuhkan orang bukan berarti memanjakan sama seperti tanaman butuh pupuk dan cahaya, kadang juga butuh dipangkas agar tumbuh sehat. Pemimpin yang menumbuhkan tahu kapan harus memberi ruang, kapan harus memberi tantangan. Terlalu banyak kontrol, orang mati. Terlalu banyak kebebasan, orang tersesat. Kepemimpinan adalah seni menjaga keseimbangan.
Dan yang paling penting: Menumbuhkan orang berarti percaya pada potensi yang belom terlihat. Kita semua tahu cerita: seseorang yang awalnya tampak biasa-biasa saja, tetapi dengan mentor yang tepat, ia bersinar. Orang yang pemalu, tetapi ketika diberi kesempatan, ia menjadi juru bicara yang hebat. Orang yang kaku, tetapi ketika dibimbing, ia menjadi manajer yang tangguh.
Inilah inti kepemimpinan: bukan menemukan orang yang sudah jadi, melainkan menemani orang untuk menjadi.
Namun ada jebakan lain: budaya instan. Kita hidup di zaman startup, KPI, target kuartalan. Pemimpin sering ingin hasil cepat, sehingga mereka hanya memilih orang yang sudah matang. Mereka tidak sabar menunggu proses tumbuh. Mereka lupa bahwa pohon yang besar tidak tumbuh semalam.
Akibatnya, organisasi dipenuhi orang-orang yang sudah "jadi," tetapi miskin proses belajar. Mereka memang menghasilkan angka, tetapi tidak meninggalkan regenerasi. Sementara itu, bakat-bakat muda dibiarkan kerdil karena tidak pernah diberi kesempatan tumbuh.
Kepemimpinan instan hanya melahirkan angka, kepemimpinan sabar melahirkan generasi.
Ada filosofi menarik: kita tidak bisa benar benar "membentuk" orang. Orang sudah punya bentuk dasarnya sendiri. Yang bisa kita lakukan adalah menciptakan kondisi di mana bentuk bisa muncul terbaik. Sama seperti bunga matahari yang hanya akan mekar sempurna jika menghadap cahaya, orang pun hanya akan berkembang optimal jika diarahkan ke cahaya yang sesuai dengan dirinya.
Pemimpin bukan tukang kayu yang memahat, melainkan tukang kebun yang merawat.
Maka pertanyaan penting untuk setiap pemimpin bukan lagi "Siapa yang harus saya pilih?” tetapi "Bagaimana saya menyiapkan tanah agar siapa pun yang datang bisa tumbuh?”
Pertanyaan itu membuat kita berpikir ulang tentang banyak hal:
1. Apakah budaya kerja kita mendorong rasa ingin tahu, atau justru mematikan dengan ketakutan?
2. Apakah kita memberi ruang untuk gagal, atau kita menghukum setiap kesalahan seakan itu dosa besar?
3. Apakah kita cuman mengajak tapi tidak di berikan hak untuk apa yg meraka inginkan, lalu mereka kamu biarkan?
4. Apakah kita memberi kesempatan untuk belajar, atau hanya menginginkan hasil instan?
Dan ada satu hal yang sering dilupakan: menumbuhkan orang berarti juga menumbuhkan diri sendiri. Pemimpin yang berhenti belajar tidak bisa menciptakan lingkungan belajar. Pemimpin yang rapuh egonya tidak akan memberi ruang bagi orang Iain untuk tumbuh. Pemimpin yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri tidak akan pernah melihat potensi di sekelilingnya.
Hanya orang yang berani tumbuh yang bisa menumbuhkan.
Mungkin inilah kesalahan kolektif kita: kita terlalu terpesona pada pemimpin yang pandai memilih. Kita memuja mereka yang katanya punya "insting talent" luar biasa. Tetapi kita jarang menghargai pemimpin yang dengan sabar menumbuhkan orang yang awalnya dianggap biasa. Padahal, bukankah itu kepemimpinan yang lebih transformatif?
Seorang pemimpin hebat bukanlah yang mewarisi tim hebat, melainkan yang meninggalkan tim lebih hebat daripada ketika ia menemukannya.
Akhirnya, kepemimpinan sejati adalah tentang menciptakan tanah, bukan mengoleksi benih. Tentang menumbuhkan manusia, bukan sekadar memilih manusia. Tentang melihat potensi di balik keterbatasan, dan menciptakan kondisi agar potensi itu bisa mekar.
Karena memilih hanya menentukan siapa yang masuk, tetapi menumbuhkan menentukan siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan melanjutkan.
Dan barangkali, di situlah ukuran paling jujur dari seorang pemimpin: bukan seberapa banyak orang hebat yang ia pilih, tetapi seberapa banyak orang yang tumbuh hebat setelah pernah berjalan bersamanya.
Semoga tumbuh lebih baik organisasiku.
Penulis : Manusia Misterius
Editor: Hafida Hakimatul Khoiriyah

0 Komentar