Kita boleh bercerita, kita boleh menyampaikan rasa sakit dan kecewa kita. Tetapi kita juga harus siap dengan berbagai tanggapan orang lain yang mendengar cerita kita. Pasti akan ada yang menanggapi dengan baik seperti yang kita harapkan. Tetapi ada pula yang kurang atau bahkan tidak setuju dengan cerita kita. Mungkin karena mereka tidak paham dengan persepsi kita atau memiliki pengalaman lain.
Apakah dengan begitu kita harus berhenti bercerita?
Tidak. Jika dengan bercerita membuat keadaan kita menjadi lebih baik, maka lakukanlah. Bagi sebagian orang, bercerita pada orang lain adalah untuk membantu mengelola emosi dan juga menemukan solusi untuk masalah yang dia hadapi.
Di hidup ini, kita tidak selalu merasakan bahagia. Banyak masalah-masalah datang yang membuat kita kecewa dan sedih. Seringkali pendapat dan perlakuan orang lain memengaruhi tindakan kita. Kita tidak bisa mengendalikan respon orang lain kepada kita. Tapi kita bisa mengendalikan respon kita ke orang lain. Seperti ajaran filsafat Stoikisme, hidup didefinisikan dalam dua dimensi. Ada dimensi internal, di mana sesuatu berada dalam kendali penuh kita, seperti perkataan dan perbuatan kita. Ada pula dimensi eksternal atau yang dikenal dengan "dikotomi kendali", yaitu sesuatu yang di luar kendali kita seperti tanggapan orang lain, perbuatan orang lain, dan apa yang dipikirkan orang lain.
Jangan biarkan perkataan dan perbuatan negatif orang lain memengaruhi kita. Perkataan dan perbuatan orang lain tidak ada dalam kendali kita sebagai manusia, oleh karena itu kita tidak perlu terlalu memikirkannya. Yang penting kita berusaha untuk berkembang dan berubah menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Fokus pada diri kita sendiri, belajarlah untuk mengendalikan dan melepaskan emosi negatif.
Tunjukan bahwa masalah-masalah yang datang tidak akan membuatmu jatuh dan terluka. Seperti yang dikatakan oleh filsuf Marcus Aurelius, "Dengan memilih untuk tidak merasa terluka, kita tidak akan terluka".
Ketika kita merasa terluka berarti itulah pilihan kita. Kita bisa mengendalikan respon kita terhadap perbuatan orang lain. Kita tinggal memilih untuk membiarkan diri kita terluka dan jatuh karena perbuatan orang lain, atau memilih menjadikan kesempatan untuk belajar lebih kuat dan lebih bijak dalam menghadapi masalah selanjutnya. Hidup memang tidak akan selalu berpihak kepada kita, tetapi dengan selalu menyadari ada "dikotomi kendali", kita tidak akan mudah untuk merasa terluka. Kita jadi menyadari bahwa kebahagiaan dan kesedihan datangnya dari bagaimana kita merespon sesuatu. Maka jangan memilih untuk merasa terluka.
Sebagai manusia sudah pasti kita memiliki kekurangan dan kelemahan. Kita juga memiliki perasaan yang terkadang terluka atau tersinggung karena orang lain. Tetapi apapun keadaannya saat ini kita harus mencintai diri kita. Jika kita tidak menerima kekurangan dan kelemahan yang kita miliki, maka siapa lagi yang akan mencintai diri kita? Diri kita kemarin, sekarang, dan besok, tetaplah diri kita.
Penulis : Faraheira Fauzia Nurfitroh
Editor : Hafida Hakimatul Khoiriyah
#esaireflektifkreatif

0 Komentar