Esai : Kemanakah Larinya Keberpihakan Simpul Pergerakan?

Dokumentasi by LSO

Dalam dinamika peradaban manusia, kata pergerakan dapat dipahami sebagai inisiatif sadar, baik dari individu maupun kelompok, untuk mewujudkan kehendak kolektif berupa perubahan nasib dari kondisi yang dianggap kurang ideal menuju keadaan yang lebih baik. Pergerakan lahir dari kesadaran reflektif yang berangkat dari gagasan, ide, dan teori, lalu dimanifestasikan dalam tindakan nyata sebagai aksi perubahan, bukan sekadar halusinasi tentang masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, pergerakan merupakan bentuk resistensi manusia terhadap ketergantungan dan belenggu kehidupan yang bersumber dari berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik.


Keseluruhan faktor tersebut dapat dipahami sebagai sebuah sistem yang membingkai, membatasi, sekaligus menentukan arah kehidupan manusia. Sistem inilah yang berperan sebagai game changer karena mengatur relasi kuasa dan struktur kehidupan, sekaligus menjadi medan perjuangan menuju pembangunan peradaban yang dianggap ideal menurut standar subjektif masing-masing individu atau kelompok.


Dalam Haluan Dasar PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), kata pergerakan tidak diposisikan sebagai istilah utopis yang kosong makna, melainkan sebagai panji ideologis yang sarat nilai dan memiliki hal yang sakral tersendiri bagi kaum Movement for Change. Kata pergerakan yang melekat dalam nama PMII berfungsi membangkitkan kesadaran perlawanan dan semangat perubahan dalam diri mahasiswa, khususnya ketika kesadaran tersebut sebelumnya tertidur, baik oleh ketidaktahuan maupun oleh dominasi retorika yang meninabobokan daya kritis.


Oleh karena itu, pergerakan dalam konteks PMII seharusnya diterjemahkan secara praksis sebagai way of life dan grand design kehidupan kader. Artinya, pergerakan tidak berhenti pada slogan atau simbol organisasi, melainkan menjadi api kesadaran yang terus menyala dan diwujudkan dalam sikap hidup, pola pikir, serta tindakan nyata yang konsisten. Untuk memahami mekanisme pergerakan secara konkret, dapat dilihat dari bagaimana seorang mahasiswa PMII menanamkan nilai pergerakan dalam dirinya.


Ketika panji pergerakan telah tertanam, kesadaran resistensi akan mendorong individu untuk mencari jalan keluar dari berbagai bentuk ketergantungan yang dialaminya. Pada titik ini, critical thinking menjadi instrumen utama, sebuah “pisau analisis” yang digunakan untuk membedah realitas penindasan, feodalisme, kekeliruan logis, kebodohan, apatisme, serta relasi kuasa yang timpang. Proses berpikir kritis ini tidak hanya berfungsi sebagai alat perlawanan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan kesadaran open minded.


Kesadaran inilah yang kemudian menggerakkan individu untuk berani bertanya, berpikir reflektif, dan memahami realitas yang dihadapinya sebagai langkah awal keluar dari belenggu personal maupun struktural. Pertanyaaan yang paling fundamental dari saya jika untuk bertanya saja tidak berani, lantas apa yang hendak diperjuangkan? Jika enggan melangkah keluar dari zona nyaman, bentuk idealitas apa yang sesungguhnya didambakan? Perubahan kolektif yang besar tidak lahir secara instan, melainkan berangkat dari perubahan individu yang kecil namun konsisten. Perubahan individu yang terus dibangun dan ditingkatkan secara masif akan menciptakan warna baru dalam lingkungan sosialnya, yang pada akhirnya mendorong terjadinya pergerakan kolektif menuju peradaban yang lebih maju. Oleh sebab itu, mustahil mengharapkan kemajuan kolektif jika individu belum selesai dengan dirinya sendiri. 


Perjuangan sosial tidak akan bermakna apabila seseorang enggan memperjuangkan nasib dan kesadarannya sendiri sebagai subjek perubahan. Kritik yang perlu ditegaskan adalah kecenderungan untuk terlalu sibuk berkoar menolak ketidakadilan dan penindasan sosial, sementara dalam diri sendiri masih bercokol sikap apatis dan abai terhadap tanggung jawab personal.


Hak apa dan hak siapa yang diperjuangkan, jika hak atas kesadaran diri sendiri saja gagal dipenuhi? 


Membangun peradaban sosial mensyaratkan terlebih dahulu terbangunnya peradaban dalam diri individu. Seseorang tidak akan mampu mewakili kepentingan orang lain sebelum mampu memimpin dan mengatasi prahara dalam dirinya sendiri. Kepemimpinan sejati berangkat dari kemampuan memimpin diri, dan hanya dari sanalah perubahan struktural dapat diupayakan secara autentik. Maka, berjuanglah di bawah simpul panji pergerakan yang hidup, yang menggerakkan kesadaran personal sekaligus berdampak pada perubahan sosial menuju kemajuan peradaban yang dicita-citakan. 



SEKALI BENDERA DI KIBARKAN HENTIKAN RATAPAN DAN TANGISAN MUNDUR SATU LANGKAH ADALAH SUATU BENTUK PENGHIANATAN SALAM PERGERAKAN!!!



Penulis : Wafiyul Ahdi
Editor: Hafida Hakimatul Khoiriyah 

0 Komentar