Dokumentasi by Ian
Ayah..ibu... aku sendirian.
Aku rindu...
Sejak lama saat aku masih kecil sering di cekoki untuk makan sayur.
Tapi aku selalu berusaha keras untuk menolak nya. "Tak enak rasanya".
Aku lebih suka makanan instan seperti mi goreng.
Seperti pada waktu itu, setiap berangkat ke sekolah aku selalu berontak meminta makan mi instan.
Jika tak di turuti, diri ku mengancam untuk tidak pergi ke sekolah, yang akhirnya permintaan ku di turuti.
Dan bukan hanya makanan ku yg kurang sehat, tp jadwal makan pun demikian.
Setiap pulang sekolah aku lebih memilih untuk pergi bermain keluar, tanpa sesuap nasi di perut.
Ketika pulang bermain, sore hari, baru aku makan.
Tak cukup sampai di situ, jadwal tidur ku juga berantakan sejak kecil.
Terkadang semalaman full main game di laptop yg berada d ruang kamar ku sampai matahari terbit.
Terlebih pada waktu aku kecil ada permainan yang begitu viral pada zamannya, point blank.
Jika hari libur tiba, aku memesan paket malam, dari jam 11 malam sampai jam 8 pagi.
Untuk anak sekecil diriku semua yg aku lakukan begitu buruk.
Tak jarang ketika aku kecil bolak-balik di rawat di Rumah Sakit dan paling parahnya aku terkena penyakit tipus.
Cerita nya pada waktu itu hari Selasa, dimana hari tersebut sekolah.
Setelah aku di bangunkan, diriku tak berdaya untuk berdiri, aku terduduk lemas bersandar di kursi di sisi ku.
Orang tua ku yg khawatir langsung memegang kening ku, panas sekali kata mereka.
Tak butuh waktu lama, segala keperluan telah di siapkan, mulai dari baju sekeluarga,
Uang untuk biaya perobatan, dan terakhir izin dari sekolah ku.
#Di ruangan yg berdinding kan tirai, aku terbaring lemas tak berdaya.
Tangan kananku tak sadar telah di suntik kan jarum infus.
Aku melihat kedua orang tua ku disisi ku, terlihat dari raut wajah mereka begitu mengkhawatirkan ku.
Setelah di rasa sudah ada sedikit tenaga, aku ingin buang air kecil.
Aku dan sekaligus infus yg ad di tangan ku ikut di tuntun oleh ibu ku ke kamar mandi.
Kencing nya di sini yah nak, tunjuk ibuku ke arah botol kecil, atas arahan dokter.
Kemudian botol kecil tersebut di beri kepada dokter ahlinya untuk di tes urin.
Beberapa jam kemudian hasil tes nya keluar dan aku di diagnosis sakit tipus.
Itulah kehidupan masa kecil ku yang penuh dengan keegoisan.
Namun di kala itu, di sisi ku selalu berdiri orang tua ku yang hebat, yg tak pernah lelah untuk mengingatkan ku akan kesehatan, tak menyerah kepada sifat berontak ku.
Berbeda dengan hari ini.
Sudah setahun tanah rantau dipijak.
Demi masa depan cerah, bangku kuliah menyertai.
Malam hari.
Angin berhembus perlahan, namun cukup untuk menusuk sampai ke tulang.
Sebuah kos berukuran 5×4.
Terasa hening, malam begitu larut nya.
jam dinding terdengar nyaring detak nya.
Aku meringkuk kesakitan dalam sepi.
Sakit yang telah lama aku bentuk kembali kambuh.
Air mata mengalir begitu saja karena tak kuat menahan sakit nya.
Terlebih air mata itu keluar mengenang kedua orang tua ku yang selalu ada di sisiku.
Tapi apalah daya, mereka telah tiada.
Ibu.. ayah... panggil ku dalam sunyi.
Berharap mereka dapat mendengar kan rintihan ku.
Aku semakin menangis sejadi-jadinya, mengingat pemakaman mereka setahun yang lalu.
Pipiku basah oleh air mata dan tak sadar merembes membasahi bantal di bawah kepala ku.
Karena mungkin kelelahan, diriku tertidur pulas dengan sendirinya.
Di saat terlelap, sayup namaku di panggil dari arah yang ntah dari mana.
Aku begitu mengenal suara itu, yah itu ayah dan ibuku.
Rasanya seperti ingin melompat lompat, karna begitu kegirangan nya dapat mendengar suara mereka kembali.
Tiba tiba, pundak ku di tepuk dari arah belakang, dan benar saja, itu kedua orang tua ku.
Aku tak menyangka dapat bertemu dengan keduanya lagi.
Jantung ku serasa ingin berhenti untuk berdetak, karna begitu girang nya. Dan lupa bahwa aku sakit keras.
Hai nak, apa kabar mu, bagaimana hari hari mu tanpa kami. Sudah makan sayur kan?
Sudah tak egois kan?
Mereka berbicara kepada ku dengan memeluk ku.
Aku tak dapat menjawab pertanyaan mereka, bibir ku keluh karna menangis sejadi-jadinya.
Aku tak tahan lagi untuk meluapkan semua kerinduan ini.
Bahkan laut pun tak dapat menampungnya.
Begitu hangat pelukan yang kurasa, Aku ingin bercerita banyak hal, bahwa Aku sekarang sendiri, Aku tersiksa dengan kesendirian itu. Tapi tak dapat terucapkan.
Mereka kembali berucap, sudahlah tangismu, kau begitu kuat, tak boleh ada air mata yang keluar.
Tak terasa pelukan itu menghilang. Dan aku terbangun dengan mata sembab. Menyisakan kerinduan yang mendalam.
Kerinduan yang tak bertepi.
Ayah..ibu..aku rindu.
Penulis: Rendy Afriansyah
Editor: Hafida Hakimatul Khoiriyah
#Cerpen

0 Komentar